Berbagi Tak Usah Ribet
Sungguh menyenangkan, melihat putra sulung saya terpapar virus kebaikan hati. Saya baru menyadari ketika dia kini duduk di bangku kelas enam SD. Ia terlihat sangat bahagia dan bukan bahagia yang berpura-pura dengan bungkusan materi. Jiwanya bahagia. "Pa, kata mem (panggilan guru wanita di sekolahnya), tidak akan pernah kekurangan orang yang selalu berbagi.." Katanya tadi. Eh, ternyata di balik kata-kata indah nan permai itu, dia mengaku polos. 'Tadi kakak (biasa dia disapa) membelikan makan buat teman kakak.' Marah! Jelas saja, uang jajannya pas-pasan. Untung ada orang tua baik yang mengantarnya pulang ke rumah. Kalau tidak..Ah sudahlah. Masuk ke kamar saya merenung, kenapa dia tak berpikir dengan dirinya sendiri. Kenapa dia berbagi uang jajan dengan temannya padahal saya tahu temannya itu berkecukupan. Saya lantas memanggil putraku masuk kamar. Penasaran, saya tanya mengapa dia membelikan makanan padahal dia tahu ayahnya tidak memiliki lagi pendapa...