Berbagi Tak Usah Ribet
Sungguh menyenangkan, melihat putra sulung saya terpapar virus kebaikan hati. Saya baru menyadari ketika dia kini duduk di bangku kelas enam SD.
Ia terlihat sangat bahagia dan bukan bahagia yang berpura-pura dengan bungkusan materi. Jiwanya bahagia.
"Pa, kata mem (panggilan guru wanita di sekolahnya), tidak akan pernah kekurangan orang yang selalu berbagi.." Katanya tadi.
Eh, ternyata di balik kata-kata indah nan permai itu, dia mengaku polos. 'Tadi kakak (biasa dia disapa) membelikan makan buat teman kakak.'
Marah! Jelas saja, uang jajannya pas-pasan. Untung ada orang tua baik yang mengantarnya pulang ke rumah. Kalau tidak..Ah sudahlah.
Masuk ke kamar saya merenung, kenapa dia tak berpikir dengan dirinya sendiri. Kenapa dia berbagi uang jajan dengan temannya padahal saya tahu temannya itu berkecukupan.
Saya lantas memanggil putraku masuk kamar. Penasaran, saya tanya mengapa dia membelikan makanan padahal dia tahu ayahnya tidak memiliki lagi pendapatan tetap.
Kalaupun dapat, langsung habis bayar tagihan ini itu.
Kenapa dia berbagi dengan temannya itu, padahal sehari-hari sahabatnya itu dijemput pakai mobil di sekolah. Dia sendiri pulang kalau gak naik angkot, ya pesan ojek online..
Lirih dia kemudian menjawab. 'Pa, uang jajan teman kakak jatuh. Dan sewaktu istirahat dia sudah lapar, jadi kakak beli makanan buat dia..
'Pa anggap saja kakak salah..tapi bukankah papa selalu bilang berdoa kepada Tuhan kalau ada masalah, tadi kakak berdoa. Papa lihat, ada ibu dari teman kakak mengantar kakak pulang..impas kan pa..
Amarah saya mendadak luruh..tapi tak saya tunjukkan. 'Ayo mandi sana, habis itu makan terus tidur..kata saya.
Dia bergegas keluar dari kamar. Saya kemudian merebahkan tubuh ini di tempat tidur..
Terhenyu dengan perbuatan baik putra saya itu. Dia tahu saya tidak lagi seperti dulu, punya uang lumayan dan semua keinginanya dituruti, ke sekolah dia saya bawah pakai mobil, pulang sekolah dijemput..
Tapi, baginya kesulitan hidup kami sekarang, seakan tak berpengaruh apa-apa. Dia tetap baik, budi pekertinya tumbuh alami. Dia tak berhitung untuk berbagi, dan tak ribet berpikir, 'kalau saya beli makanan buat teman, terus saya pulang bagaimana.'
Atau meminta temannya, untuk minta ke orang lain saja. Dan ini bukan pertama kali dia berbagi tanpa berpikir, beberapa waktu kalau kawan mengikuti seri tulisan saya.
Sewaktu dia dan kawan-kawan hendak anjang sana ke sebuah panti asuhan, oleh wali kelas di minta bawah pakaian bekas untuk disumbangkan.
Saya kaget, waktu itu. Pakaian yang akan diberinya ke panti asuhan ada tiga pasang yang baru sekali pakai. Saya tanya dengan nada agak tinggi..'kenapa pakaian baru kakak mau sumbang, papa setengah mati cari duit..
Dia jawab ringan. 'Pa, bukankah papa sendiri yang bilang, kalau membantu jangan berhitung. Dan usahakan beri yang terbaik.'
Hmmm...rupanya saya yang sudah agak pikun.
Wouu...sungguh sukacita luar biasa. Ketika ada orang lain, terlebih itu anak saya sendiri terus mengingatkan tentang memberi tanpa harus berhitung atau berpikir ribet.
'Sabar nanti diusahakan.'
'Tunggu ya, saya sendiri tidak ada uang,'
'Semua pasti akan indah pada waktunya.'
'Saya berupaya siapa tahu ada orang yang mau membantu.'
Itu jawaban-jawaban saya, ketika ada orang yang meminta bantuan. Padahal tanpa saya sadari, memberi dari kekurangan itu akan memberi kebahagiaan hati dan sukacita iman begitu luar biasa.
Sebagai orang yang percaya pada Tuhan Yesus, pribadi ini harus ditatar lagi belajar dari firmanNya mengenai hidup untuk menghidupkan orang lain.
Dalam Alkitab ada tertulis seperti ini: "Setiap orang sebaiknya memberi sesuai dengan apa yang dia putuskan dalam hatinya, tidak dengan berat hati atau terpaksa, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan senang hati.” (2 Korintus 9:7).
Dari ayat Alkitab ini saya baru paham, meski dalam kekurangan bukan berarti melupakan berbagi dengan sesama, tanpa pakai birokrasi berbelit.
Dulu pernah saya menulis, memberi itu ibarat pipa. Ketika air dalam pipa kita lancar mengalir kemana-mana, maka pipa itu sendiri akan terpelihara dengan baik.
Dan tidak akan pernah kekurangan air, karena Tuhan menyediakannya dan mempercayai kita untuk menyalurkan berkat.
Tetapi beda ketika pipa kita mampet.
Maka air akan terkumpul di satu titik dan tempat berkumpulnya air itu akan memunculkan banyak kotoran. Ada lumut, ada pasir yang mengeras dan sebagainya. Akhirnya, pipa itu rusak dengan sendirinya..
Sama seperti jiwa kita. Ketika kita hanya mengumpulkan harta, mengejar kekuasaan dan ketenaran, maka kita terikat dengannya sehingga sulit dan berhitung berbagi.
'Kalau saya kasih uang nanti uang saya akan habis, kalau saya kasih pakaian nanti pakaian akan habis, kalau saya kasih mobil nanti mobil saya habis, kalau saya kasih rumah nanti rumah saya akan habis.' Itu, pikiran-pikiran yang akan membuat jiwa kita akan rusak dan kita sulit menjadi manusia yang benar di mata Tuhan.
Ingat harta, jabatan, ketenaran, dan semua yang bersifat duniawi tidak akan kita bawah mati, itu juga tidak akan bisa mempengaruhi Tuhan, ketika ternyata nama kita tidak masuk dalam kitab kehidupan.
Benar kata Om Sam Ratulangi, sebenarnya fungsi manusia di dunia adalah untuk 'SI TOU TIMOU TUMOU TOU', hidup untuk memanusiakan manusia lainnya..
Ah, kadang ocehan anak kecil seperti putra saya mempunyai makna dalam, tergantung bagaimana kita terus mencari dimana letak kebahagiaan itu sendiri.
Tidur siang tadi, kupeluk kakak. Saya kemudian berbisik, 'kak terima kasih untuk pembelajaran buat papa..tapi ada satu lagi ingin papa tanya..
'Apa itu pa? Tanya kakak. 'Perasaan jumat lalu, papa beliin 3 bolpoin, buat kakak pakai di ujian minggu ini kenapa tinggal satu..
Dia hanya senyum, kemudian berseloro, 'Pa di Indomaret banyak..gubrakkk...(jeklyMS)
Komentar
Posting Komentar