Catatan Rugi Virus Mematikan Bernama Politik




Kamis pekan lalu wa saya mendadak bunyi.. Saya dapat kiriman undangan awal dari dua daerah, diminta mengisi materi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, bertajuk "Redam hoax Pilkada 2020, dengan informasi akurat".
Menyusul Jumat saya menerima undangan resmi dari KPU, dua kabupaten (sengaja saya tak tulis di kabupaten mana, karena ini sudah menyangkut integritas dan profesionalitas pelaksana Pemilu).
Lokasi pelaksanaan sudah ditentukan, satu di kecamatan A, dan kabupaten yang satunya lagi di kecamatan B.
Otak liar ini tak kuasa menahan rasa suenangg bukan main, acara di dua daerah itu hanya 3 hari. Uang cuap-cuap, masuk kantong masing2 sepuluh juta, alias dua puluh juta untuk dua wilayah pelaksanaan ini.
Sempat wa ke sahabat, minta pinjam mobil. Tapi tak dijawab, akhirnya setelah timbang sana, mikir sini. Ah, sewa aja mobilnya kan fulus yang nanti didapat banyak. Tarulah dengan bensin, paling-paling tiga hari mentok di angka sejuta..
Pagi tadi saya meluncur ke tempat penyelenggaraan. Setibanya di sana, saya disambut hangat beberapa teman PPK.
Mereka bahkan mengajak saya minum kopi. Menunggu acara dimulai, saya ngobrol dengan mereka sambil mengirim ucapan rutin harian kawan cerdas ke wa, facebuk, instagram, dan lainnya.
Memang semalam sampai larut, saya sudah membuatnya pakai laptop dan di drop ke android saya, yang memorinya..ehmm dikit lagi muncrat..
Teng..ibarat murid sekolah teman-teman PPK langsung melompat. Owww, ternyata acara sudah mau dimulai tepat jam 10..
Kopi saya tak sampai habis, saya ikutan menuju ke lokasi. Sampai di tempat pelaksanaan, tiba-tiba saya didekati seorang komisioner KPU..
'Bro, ke ruangan sebelah dulu. Ada pemberitahuan dari camat..kata dia.
Hmmm, saya sudah merasakan aura tak enak..
Benar, di ruangan itu. Si camat sudah menunggu, dia menyapa saya dengan baik. Dan lanjut ke obrolan serius.
"Begini pak Jek, pelaksanaan acara ini untuk sementara ditunda. Alasannya karena pembicara termasuk pak jek, tidak dikonsultasikan dulu dengan kami pihak kecamatan.
Saya hanya senyum mendengar ocehan diplomatis nan melankolis camat itu. Setelah menyampaikan itu, tiba-tiba seorang komisioner KPU langsung nyamperin. Dia melabrak meja tempat saya dan camat lagi diskusi.
'Inikan agenda KPU, pemerintah hanya memfasilitasi saja. Kami tidak mau ada intervensi seperti ini, acara tetap jalan dan Pak Jek masuk jadi pembicara..
Tapi si camat bersih keras, kayak batu karang yang teguh. Dia bahkan agak sedikit nyelene, menyebut saya pelaku berpengaruh alias influencer di faisbuk, karena sudah mendukung salah satu bakal calon di Pilgub.
Tumben si camat itu nyebut saya influencer (artinya saya ini memiliki pengikut banyak di Medsos, jadi admin grup satu bakal calon dan bisa saja saya jadikan agenda KPU ini untuk mempengaruhi peserta)..
Ahh, jadi GR disebut pakai kata itu. Padahal saya bukan selebgram, yang tiap buat status di FB, instagram jumlah likenya sampai ribuan..jangankan ribuan sepuluh like aja girangnya bukan maen..
Pada akhirnya, saya mengatakan..saya tidak akan menjadi pemberi materi. Saya juga meminta kawan-kawan KPU untuk tidak mengundang pemateri yang sudah kena 'virus' ngedukung salah satu calon..
Saya kemudian bergegas untuk balik kanan. Eh, belum sempat hidupin mobil kawan komisioner KPU mendekat dan memberi saya uang, 'pak Jek uang ini untuk pengganti biaya transport' katanya..tapi saya menolak pemberian itu.
Mungkin kalian yang baca tulisan ini menganggap saya sok suci, tapi saya tetap berpegang pada prinsip. Saya menerima upah, kalau saya bekerja..dan kalau saya kerja jangankan diberi, pasti saya akan minta upahnya..hehehe..
Lanjut, mendadak kaca samping kiri mobil diketok..Ah, ternyata pak camat, yang di benak ini telah diperintah atasan langsung supaya saya jangan sampai diberi ruang memberi materi..
'Pak jek minta maaf, saya hanya menjalankan tugas. Ini ada uang sedikit dari saya pribadi, uangnya halal, sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini..
Saya balasnya dengan senyum. Uang pemberian si camat itu saya tolak, tapi dia ngotot. Saya kemudian pamitan, duh ternyata uang itu dilemparnya ke jok bagian belakang..
Yaaa, apa daya. Saya terpaksa menerima uang itu. Hadeh, prinsip tak sudi terima upah jika tak kerja sudah saya langgar, ah masa bodoh, lah kan camat itu yang ngotot, bukan saya.
Ehmm, pikir saya masih ada satu tempat dimana saya juga diminta jadi pembawa materi.
Tapi, karena masih kebawa suasana tak mengenakan tadi, saya coba hubungi komisioner KPU di kabupaten itu.
Dan otak cerdas ini ternyata masuk kategori jajaran elit..dari ujung telepon, si komisioner KPU memberi jawaban yang sudah kuduga.
'Pak Jek acaranya belum jadi, tadi sudah konsultasi dengan bupati. Nanti kami hubungi kembali, karena tempat pelaksanaannya akan dipakai untuk tempat rapat, camat dan kepala-kepala desa..
'Tapi boleh saya minta no rekeningnya, pengganti uang transport...belum saya jawab eh ternyata hp milik komisioner itu sudah beralih ke orang lain..
'Pak Jek saya camat, bla, bla, bla. Maaf kami tak sempat koordinasi dengan teman-teman KPU, jauh hari kami sudah meminta tempat acara ini untuk rapat dengan hukum tua, nanti saya transfer uang pengganti transport..
Ketimbang tamba ribet, saya oke-oke saja.
Memang dari sabtu, perasaaan ini sudah tak enak. Mana mobil yang saya mau pinjam ke kawan tak dijawabnya..
Berarti bukan rejeki saya. Mengenang lima tahun lalu, ada 8 daerah dimana saya diminta oleh pelaksana Pilkada jadi pembawa materi soal informasi yang akurat dan benar, lumayan dua minggu lebih tiga hari, kantong saya terisi full delapan puluh juta rupiah..
Saya baru sadar, ini salah satu konsekuensi ketika saya menetapkan pilihan mendukung salah satu bakal calon gubernur.
Saya juga tahu, tidak mungkin kedua camat itu nekat, 'menolak' saya jadi pemateri tanpa perintah atasan langsung.
Karena bisa saja ketika saya bawa materi, keluar kata-kata ini. 'Jadi kawan-kawan KPU dan PPK, cara menulis informasi yang 'CERDAS' harus seperti ini'...iyakan.
Mungkin saya akan diterima kalau saat turun dari mobil, terus teriak, 'ayo kita mulai acara yang sangat 'HEBAT' ini..
Ah, saya malah merinding sendiri. Ternyata virus mematikan bukan Covid 19 alias virus corona. Tapi virus politik, bayangkan tak hitung menit dia bisa menular dari tempat satu ke tempat lain, hanya lantaran saya dicap terpapar virus cerdas.
Tapi sudahlah, lagian sekalipun itikad saya baik akan memberi materi secara profesional. Tapi bagi kedua camat itu, menganggap saya harus di observasi dulu selama 14 hari, kalau suhu panas saya memberi informasi soal giat kawan cerdas berada di angka 37,5 persen kebawah saya mungkin baru bisa diberi kesempatan keluar dari zona isolasi..
Sudahlah, saya sadar sudah terlanjur jatuh hati sama sahabat cerdas. Ada berapa tawaran menggiurkan bikin berita dan ucapan setiap hari dari beberapa Balon tiup saya menolaknya...
Saya sih senang-senang aja kalo dikasi duit apalagi sampe miliaran. Lumayan, bisa beli Lamborghini seri terbaru hanya dengan buat ucapan dan tulisan doang. Tapi ya itu, karena komitmen ini bulat buat pak cerdas, buat apa boleh, yang penting komitmen dan prinsip jelas.
Ada kawan saya bolak balik pakai mobil forpamer, ehhh dodol itu fortuner. Saya tanya, "Lu kok kaya gitu, bro. Kerja lu apa?" Dia jawab, "Alah.. tinggal kocok tulisan di Medsos doang.." Ternyata semua diembatnya, saudara.
Enaknya memang jadi seperti dia, lihat si Balon hebat berduit dia ada di sana, lihat baliho 'diberkati untuk memberkati' dia juga hadir. Brapa akunnya bro, jawabnya 'ratusan'.
Ya, jelas saya kalah telak di sini.
Saya hanya punya akun satu, dan dari akun itu pula saya memberi dukungan untuk sahabat cerdas, kata kawan itu, 'gimana mau kaya kalau hanya dukung satu calon, terus pakai akun asli pula tidak abal2'.
Pun demikian saya tetap harus berjalan di atas prinsip dan komitmen, karena tanpa dua kata itu. Saya bisa sejahtera, tapi hanya sementara, tidak ada hasil sama sekali, dan saya sudah mengalami itu..
Ping...nada wa saya berbunyi. Pikir saya mudah2an duit..eh pas di buka, ada pesan masuk dari kawan cerdas lagi sepedaan dan menuju ke bandara...
Sabar pak, nanti saya buat informasinya..ingat pak kawanmu ini orang yang berprinsip dan punya komitmen, ini lagi mau mampir beli masker, biar tak kena virus hebat, dan akan kutunjukkan kepada mereka komitmen ini tidak bisa dihargai pakai angka tapi pakai nilai...
Ok sudah dulu tulisan pendek saya hari ini...salam cerdas dan salam rukun..semoga sehat dan sukses selalu di hari ini kawan..(jeklyMS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguji Orang Baik

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?