Kenapa Selalu Tentang GSVL
"Jek kiapa ngana salalu bela GSVL. Padahal beliau nanti so nda walikota. Jek ada berapa kepala daerah suka ja baca ngana ba tulis deng ja beking apa itu, rupa iklan ucapan?".
Begitu pertanyaan dari puluhan pesan yang sama, kebetulan tadi baru kubuka pelan-pelan pesan tak terbaca di akun FB.
Saya akan membalasnya, karena setelah kulihat akunnya jelas dan dia merupakan salah satu tokoh masyarakat di daerah ini.
Saya juga senang karena meski tulisan saya tak di publish untuk umum namun ternyata bisa sampai kepada para elit di Provinsi ini.
Enak, cara beliau bertanya pakai etika serta sopan.
Dan saya yakin, beliau si pengirim pesan ini tidak berpikir kalau saya kaya raya atau mencari dan mendapat untung besar karena selalu menulis tentang GSVL.
Pertanyaan ini sekaligus mewakili saja pertanyaan yang sama yang selalu kuterima.
Kalau mau jujur pak, atau kupanggil saja Om?. Ah, biar sopan kusapa pak saja.
Sebenarnya. Tidak cukup space di blog ini jika harus membahas satu persatu apa yang sudah GSVL lakukan..
Saya tidak akan menulis semuanya lewat opini saya pribadi karena kesannya cendrung tidak netral.
Tapi cukuplah saudaraku di Pandu yang menjawabnya...
Berapa waktu lalu saya dan keluarga diundang hajatan nikah oleh salah satu warga di Wori. Entah kenapa, saya kemudian berpikir untuk mampir sebentar di perumahan pandu.
Tempatnya asik, udaranya sejuk kaya oksigen karena berada di ketinggian.
Iseng saya kemudian turun di sebuah warung milik seorang warga, mau beli permen sekalian bincang ringan.
"Pak torang senang sekali tinggal di sini..samua fasilitas so ada, jalang so pe bagus.." kata si ibu pemilik warung itu. "Dulu sebelum bencana 2014, saya dan keluarga tinggal di Dendengan, cuma torang pe rumah anyor sampe dia pe isi ilang samua, mar puji Tuhan berkat perjuangan Pak Veki (merujuk pada GSVL), torang dapa rumah kong gratis lei.." ujarnya sumringah.
Saya tak tahu apakah jawaban itu tulus karena lihat mobil pick biru yang saya kendarai. Tapi yakin saya ibu itu sungguh2 bercerita.
Ketika bicara soal rumahnya yang hanyut dan harta benda semua lenyap. Terlihat wajah getir mengingat masa dimana selama berpuluh tahun rumah yang dia tinggali hilang dalam sekejab.
"Torang sempat tinggal pa sudara. Ada bapikir mo beli rumah, mar kasiang doi dari mana. Sedang mo makang so setengah mati. Mar katu Tuhan da dengar torang pe doa. Dia kirim kamari torang walikota yang pambae dengan parduli pa masyarakat.." ucap si ibu.
Saya sendiri tidak bisa membayangkannya. Dan tidak pernah merasakan situasi dalam keadaan seperti yang dialami ibu itu dan keluarganya.
Susah memang sedang kurasakan, tapi selalu ada sudut terang berupa berkat dari Tuhan yang bisa kuandalkan.
"Bapak tahu bagimana jalang datang ka sini dulu? Rusak lei pak. Tapi sebenarnya bole torang bakumpul doi kong beking pelang2. Mar katu torang pe walikota enda kase biar. Dia beking akang jalang dengan ada fasilitas laeng so tasadia di sini. Puji Tuhan..'
"Dulu waktu tinggal pa sudara. Kurang ja malo pak, peitua ja bacari doi mar nda salalu ada. Kalu anak2 saki helekan ka Puskemas nimbole soalnya abis doi frak. Waktu itu so pasrah pak, mo bataria pa sapa.."
Ah, sebuah pengakuan yang jujur yang datang dari seorang wanita pejuang dan tangguh. Kini jalan menuju ke rumahnya sudah bagus. Suaminya tetap bekerja sebagai tukang. Dan si ibu memulai usaha warung.
"Bapak Veki itu, sama dengan torang pe papa. Kalu bukang dia tu walikota paling torang masih tinggal di penampungan ato pa sudara, nintau bagimana torang pe nasib kalu Pak Veki enda perjuangkan rumah gratis for torang.." Senyum sang ibu merekah memperlihatkan kebanggaan pada pemimpin yang peduli rakyat.
"Itu jawaban saya untuk pertanyaan bapak yang terhormat.."
Bagi saya. Cukup satu peristiwa bisa meruntuhkan kesombongan diri ini. Aku bukan apa-apa dibandingkan masyarakat Manado yang merasakan derita banjir dan longsor 2014.
Saya tidak masuk hitungan jika dibanding mereka yang masih harus bergelut dengan rintihan hidup, mencari sesuap nasi dengan menjadi pemulung sampah.
Lihat pak, mereka tidak pernah ribut dengan semua kesenjangan yang ada. Mereka menjalani hidup dengan apa adanya, sampai pemimpin seperti GSVL yang mereka harapkan datang menyapa..
Jadi pak. "Kenapa saya selalu membela GSVL?".
Pertanyaan itu muncul lagi. Dan saya mulai minum teh tawar yang sedari tadi menunggu untuk dinikmati.
Saya mulai mengetik kalimat, menyampaikan apa yang selama ini saya lihat, ketahui dan pikirkan tentang sosok GSVL..
"Karena hanya GSVL yang mampu menerapkan sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tanpa GSVL, rakyat terdampak bencana banjir 2014 akan hidup terlunta-lunta.."
Itulah kenapa aku selalu membela dia. Karena membela dia, berarti membela saudara-saudaraku di Manado bahkan kelak di Sulawesi Utara yang masih hidup di bawah garis kelayakan sebagai manusia sejahtera.."
Itu jawaban saya pak. Lebih kurangnya saya mohon maaf. Tapi bolehkah saya nanya balik, "siapa si kepala daerah lain yang tertarik dan suka baca tulisan serta ucapan saya.."
Wadauu...sorry bercanda pak. Terima kasih, God Bless You..(JM)

Komentar
Posting Komentar