Menguji Orang Baik



Tulisan ini sudah pernah saya buat. Dan entah mengapa, saya kembali merelease tulisan ini.
Kiranya yang membaca tulisan ini bisa mendapatkan pencerahan dan menggugah hati.
Hidup itu sebuah perjalanan kawan, bagai naik pesawat tidak selamanya tenang. Ada saat alarm berbunyi untuk gunakan sabuk pengaman karena turbulensi.
Meski pesawat goyang dan bergetar hebat, masih ada pramugari yang berdiri mengingatkan penumpang pakai sabuk. 
Dia sendiri tidak peduli akibat fatal kalau berdiri saat pesawat bergetar menembus awan tebal. Bila dia jatuh bisa cedera ringan, berat bahkan nyawa melayang.
Ya kan SOP-nya seperti itu buat kru pesawat. Jawabannya benar kawan, tapi SOP bisa dikalahkan naluri kebaikan, coba perhatikan di pesawat ketika terjadi guncangan ada pramugari atau pramugara yang langsung duduk dan pakai sabuk. 
Ini bicara soal 'habit' alias kebiasaan, yang ujungnya memunculkan naluri kemanusiaan. 
Kalau orangnya perhatian dan suka membantu, melakukan kebaikan, dalam kondisi dan situasi pesawatnya oleng sekalipun dia tetap melakukannya meski itu melanggar aturan penerbangan. 
Itu dilakukan semata demi keselamatan semua penumpang. Memastikan mereka baik-baik saja, hingga tiba dengan selamat di tujuan. 
Tulisan di atas merupakan ilustrasi menggambarkan situasi saya sekarang ini di tengah masalah dan ragam kesulitan hidup. Harapan saya satu2nya tinggal pada salah satu sosok pribadi cerdas di daerah ini.
Kenapa saya menulis judul, 'menguji orang baik'. Sederhana saja kalau seorang memang baik. Di tetap baik tanpa harus nunggu mood baik.
Contoh pemimpin entah dia masih menjabat atau sudah selesai menjabat level diri dalam merefleksikan karakter pelindung, pelayan demi membantu orang2 yg ada disekitarnya semestinya tetap sama tidak berubah.
Pemimpin teladan dan terbaik versi saya, yakni dia yang tetap baik dan menepati janji meski jabatan tak lagi dimiliki.
"Pakai filosofi pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Saat dia berbuah, dia memberi manfaat bagi semua orang. Ada yang sopan mengambilnya dengan memanjat pohon itu.  Tapi ada juga orang yang melempar pohon itu. Dia tidak menggerutu, dan dia tetap berbuah. Setelah pensiun dan tidak berbuah, kebaikan lain diberikan pohon itu. Dia rela menjadi tempat berteduh, baik di saat panas maupun hujan. Seperti itu sejatinya seorang pemimpin," kata Mantan Bupati Purwakarta dua periode Kang Dedi Mulyadi atau biasa disapa Kang Demul.
Setelah selesai menjabat, Kang Demul memberikan bantuan modal bagi orang2 dekat yang telah bersamanya dan selalu mendukung dirinya selama menjadi bupati Purwakarta.
Dia kemudian maju di Pilgub Jabar berpasangan dengan Deddy Mizwar. Sayang Kang Demul gagal menang di Pilgub. 
Tapi hebatnya. Kekalahan itu tidak membuat Kang Demul berhenti berbuat baik. Dia tidak menjadikan alasan habis duit gegara maju di Pilgub, untuk tidak membantu orang lain. Orang2 dekatnya tetap setia, karena merasa aman dan nyaman berada di samping Kang Demul. Dapur mereka tetap mengepul,  berkat modal usaha pemberian Kang Demul.
Sekarang di Jawa Barat, nama Kang Demul kembali membahana. Rakyat Jabar baru sadar kalau karakter pemimpin merakyat dan memilki kepekaan sosial itu jauh lebih penting daripada pemimpin yang cuma doyan main instagram. 
Mereka bahkan mulai membanding2kan lebih memilih pemimpin baik yang ada pada sosok Kang Demul. Daripada pemimpin gaul pada sosok Gubernur Ridwan Kamil.
"Saya tidak mau bohong. Masa ada pemimpin tidak punya duit. Saya hanya merasa bahagia saja. Saya dan keluarga masih bisa makan enak meski tak lagi menjabat. Sedangkan mereka yang sudah setia bersama2 saya telantarkan. Saya tidak membeli loyalitas mereka, saya hanya tidak ingin mereka susah. Soal mereka tak lagi ikut saya, karena sudah dapat modal kemudian usaha mereka maju itu rejeki mereka. Hitung2 itu amal saya, yang nanti akan sangat berharga di akhirat nanti," ucap Kang Demul.
Kawan. Pasti bertanya kenapa saya tau sosok kang Demul. Iya ada kawan saya, yang sejak 2011 menulis tentang kang Demul namanya Bertran Sinaga.  Kebetulan di 2008 waktu saya jadi Koordinator Liputan di Media Sulut, Bertran adalah reporter saya. Dia kemudian pamit tahun 2010 untuk pulang ke Bandung. Entah bagaimana ceritanya dia kemudian bersahabat akrab dengan Kang Demul.
Cerita di atas merupakan cerita Betrand, tentang sosok pemimpin baik yang kadar baiknya tetap sama waktu masih menjabat dan setelah pensiun.
Ah...sosok kang Demul, bak kisah film fiksi yang kebetulan menjadi nyata, pantesan Betrand membelanya mati-matian. Bukan hanya Betrand banyak penulis lain yang begitu mengidolakan Kang Demul, sebagai sosok pemimpin sederhana selaras dengan hati malaikatnya. 
Andai saja ada pemimpin di Sulut seperti beliau. Akan kutulis puisi cinta buat dia setiap hari.
Tadi air mata ini tanpa terasa jatuh. Selesai belajar online, diam2 putra sulung saya keluar rumah jalan kaki ke Indomaret. Padahal jarak dari rumah cukup jauh. Kalau diibaratkan seperti jalan kaki dari Kantor Walikota Manado sampai dekat lampu merah Teling.
"Ada kamana kak..? Tanya saya.
"Dari Indomaret pa.." saya jelas kaget. Kenapa dia harus rela jalan jauh2. Kaos oblongnya basah karena keringat luar biasa keluar dari pori2 tubuhnya.
Saya mau marah. Tapi dia langsung menyela. "Ada beli ade pe susu pa.." saya tamba kaget.
"Doi dari mana..? Nada suara mulai tinggi. Maklum orang yang lagi banyak pikiran, cendrung emosional.
"Ada pake kakak pe tabungan pa.."
Saya shock, lemas dan terdiam. Sebegitu sayangnya kakak pada adiknya, tabungan yang lama dikumpul rela dia gunakan buat beli susu adiknya.
Masuk ke kamar saya kemudian menangjs. Ku kunci rapat pintu kamar, dan berlutut sambil berdoa pada Tuhan.
Saya seorang ayah yang tak berdaya. Tidak bisa memberikan yang terbaik buat, kedua anak dan istri saya. Saya hanya pembawa mimpi buat mereka.
"Tenang satu dua hari ini papa somo dapa doi, nanti papa antar pigi ka kolam renang.." 
"Sabar satu dua hari ini kakak ade dengan mama so nda perlu baku sesa nae di muka oto pick up soalnya mo ganti oto staisyen..."
Alangkah berdosanya saya. Bukan membawa hal2 nyata tapi memberi janji yang tak pasti.
Tetapi saya tetap berdoa. Kiranya saya dapat jalan untuk keluar dari situasi sulit ini. Karena tidak ada garansi kalau janji kepada saya itu akan ditepati..saya hanya mendoakan saja...
Sekali lagi saya bukan manusia yang gemar teriak-teriak atau berkoar di Medsos buat status tentang kesusahan saya,.
Saya juga tidak mau menjelekkan orang lain sambil teriak pake faisbuk, instagram.
"hei kalian tidak berperikemanusiaan. Masa saya sudah susah ditambah bikin susah.' 
Sungguh beruntung hati dan pikiran ini ditempah, dibentuk, dan dibangun Tuhan dengan hal-hal baik. 
Benar. Tidak ada manusia sekuat apapun dia, yang bisa bertahan dengan situasi ini. Namun di situasi sulit ini, jangan mengikis kebaikan hati bertameng kebohongan, untuk menolak berbagi dengan sesama. 
Kita semua ini sejatinya rapuh seperti jaring laba-laba, hanya si laba-laba itu yang merasa jaring tenunannya kuat. Kita mahluk sosial, yang sekali waktu akan minta uluran tangan manusia lain. 
Boleh jadi tabungan banyak, logam mulia bertumpuk. Tapi ketika ada rencana besar.  Siapa yang akan bantu kalian, keluarga saja tidak cukup butuh orang lain bukan. Padahal sejatinya materi tidak akan berguna, kalau sudah ajal ya habis sudah, dia hanya berfaedah kalau kita pernah berbuat baik dan menepati janji pada orang lain.
Dari situasi serba kekurangan ini, saya bisa ambil hikmah yang terdalam..Dengan harapan masih ada segelintir manusia baik pemilik nurani dan kepekaan kelas dewa di negeri ini. 
Kawan, memberikan bantuan harusnya jangan lihat cuaca, mau hujan atau panas kalau hatinya baik, dia tetap baik membantu sesama tidak perduli pada situasi dan kondisi.
Tuhan mengajarkan kita sejenak, supaya saling mengulurkan tangan. Mungkin ini juga pembelajaran bagi mereka yang pelit berbagi, kalau kata-kata saja berbuat baik tak mempan diingat, virus corona bisa jadi pelajaran.
Saya jadi ingat, waktu kecil dulu, ada seorang kawan beli sepeda baru. 
Dulu beli sepeda kalau sekarang kayak beli motor. Keluarga kawan saya itu memang dikenal orang berada di kampung. 
Ketika sepeda itu baru dibeli beberapa kali saya diajak kawan itu, dan dipinjamkannya sepeda kepada saya. 
Namun seiring waktu, usia sepeda menua. Kawan saya itu mulai jarang mengajak saya. Dan sama sekali tak mau meminjamkan sepeda itu, kata dia takut rusak.
Satu waktu setelah pulang dari sekolah. Saya bermain di halaman rumah. Kebetulan kawan saya itu lewat di depan rumah. 
Ya, namanya naluri anak kecil saya ikut saja. Dia terlihat kesal. Marah2, minta saya tidak ikut di belakang sepeda. 
Dikayunya sepeda lebih cepat, saya ikutan lari cepat mengikutinya.
Brakk...tiba-tiba kawan saya dengan sepedanya masuk got. Untung kawan saya itu hanya mengalami luka lecet ringan.
Setelah diperiksa rem sepedanya rusak. Karena kaki dan tangannya sakit. Saya mengangkat sepeda itu, dan mendorong sampai di rumah.
Orang tuanya marah besar. Tapi mereka juga bangga karena ada saya yang membantu. Ayahnya kemudian memperbaiki rem sepeda itu. 
Setelah selesai diperbaiki. Spontan ayahnya minta saya mencoba sepeda itu. "Coba jo jek sudah so jadi," itu kata papa kawan saya.
Besoknya, pulang sekolah tiba2 ada bunyi kring2 di depan rumah. Ternyata kawan saya yang punya sepeda sudah di depan rumah. Dia kemudian ajak saya bermain sepeda. 
Sesaat bermain, polos dia berkata. "Pake jo tu sepeda jek. For ngana, papa bilang biar pake lama2 enda apa2.  Kalu enda ada ngana nintau kita mo jadi apa.." katanya. 
Saya kemudian naik di sepeda itu dan dengan senang luar biasa mengayunya.
"Torang dua sama jek. Kita ada doi, mar ngana ada hati.." ucapnya sambil tersenyum, kami berduapun terbahak.  (jeklyMS) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?