Sabar Ada Batasnya Bro

'Terkadang ada kalanya orang sabar itu meninggalkan apa yang membuatnya sabar ketika semua pengorbanan, ketulusan, kesetiaan, dan karyanya tidak pernah dihargai,' itu kata kawan saya, meski ku tahu itu dia kutip dari sesama penulis, Indah Riyanna.
Ok lanjut.. Kata-kata Indah Riyana yang dikutip itu dia katakan saat bersua dengannya kemarin di sebuah rumah kopi.
Saya diajaknya, dengan alasan ingin sharing saja. Ya...karena pernah jadi rekan sejawad sesama pemimpin redaksi.
Saya memenuhinya, meskipun kondisi fisik masih agak lunglai akibat derah asam lambung yang menyengatku kemarin.
Bincang saya dan dia awalnya ringan-ringan saja. Saya hanya pesan minuman teh hangat tak pakai gula, dan kue.
Namun makin kemari, omongannya mulai menusuk. Asam lambung saya bukannya membaik tapi malah tambah kumat..
"Kawan tiap hari saya baca berita soal GSVL, ada ucapannya yang di desain begitu baik juga advetorial ajakan pilih GSVL sebagai gubernur,"..saya hanya mengangguk, sambil makan kue.
'Begini saya hanya kasihan. Kerja dan karya kamu, lewat tulisan yang bagi saya masuk kategori terbaik, hanya dimanfaatkan dan di eksploitasi memenuhi ambisi pemimpin yang kamu kagumi.'
Lah kok dia tahu semua. Pasti ada di antara teman yang saya percaya jadi tempat curhat membeber padanya. Tapi, saya tidak menyelah. Biarkan dia bicara semau perutnya.
'Begini bicara tulisan, itu bagi awam mereka pikir gampang saja. Mereka tak tahu itu cukup menguras pikiran. Dalam membentuk, menstrukturkan kata demi kata hingga orang tertarik membacanya..
Ocehannya masih berlanjut. 'Apa kabar dengan asam lambungnya sudah membaik,' datar saya jawab..belum.
'Kawan itu karena pikiran. Begini sumber penyakit itu bukan hanya karena pola hidup kita yang tidak sehat. Tapi pikiran juga berpengaruh pada kesehatan kita..
Di benak saya pasti, keluar kata-kata 'hati yang gembira adalan obat..Benar saja kata-kata itu meluncur mulus dari mulutnya.
'Dari tahun 2017 kalau tidak salah, kawan sudah mulai memoles GSVL lewat berita di koran saya tahu itu..
'Tapi yang jadi pertanyaan saya berapa kamu dihargai. Saya tahu minim sekali. Dan sampai sekarangpun dengan antusiasnya kamu rela memberi 'kekayaan intektual' secara cuma-cuma..
Saya hanya tertegun, sembari meminum teh tawar, yang terasa makin tawar akibat kata-kata nan melow dan diplomatisnya.
"Kamu sedang membuat karya kawan. Coba amati baik-baik, yang dilayani paling hanya orang dekat. Saya tidak yakin ketika kawan menulis kebaikan, itu hanya perona tulisan. Berharap akan ada imbalan, iya kan..
Saya tersentak, kue yang dia pesan tak sadar kuembat juga.
'Jadi begini kawan, sadarilah orang yang kita kagumi belum tentu menghargai kita dengan imbalan setimpal. Kawan sudah mengorbankan jabatan paling puncak di redaksi media cetak, sesuatu yang lebih besar nilainya, hanya karena tergiur melihat fisik, cara bertutur, atau bagian luarnya saja...sebutnya.
'Kamu tidak ada apa-apanya di mata orang yang kamu idolai. Meski kamu berkeringat panas dingin lewat karya baik. Kenapa harus sampai melacurkan diri meminta dan meminta. Nilai saja sendiri, apa dia peka. Saya lebih tahu, di kanan kiri beliau ada begitu banyak pembisik..
'Pak kalau Jekly cukup kasih dua puluh juta dia sudah sumringah..katanya sambil menatap tajam ke arah saya..
Saya hanya senyum. Sembari berkata dalam hati, 'Lah kok, saya yang menderita dia yang ngambek..
Kupikir sudah selesai. Dia masih lanjut..'kalau ditotal pemberiannya pasti diangka puluhan juta, padahal kalau dihitung sejuta saja untuk ucapan dan sejuta juga untuk pemberitaan harian angkanya bisa ratusan juta.
'Ingat kawan kamu itu pembentuk opini publik paling brilian. Dulu kalau kamu masih ingat, waktu kita ke Minut belum bupati yang sekarang, kata orang dia pelitnya minta ampun, luluh juga lantaran tulisan kamu. Pulang kita berempat seorang jinjing tas pelastik..
Wah pikir saya, ini sudah mulai masuk racun pencuci otak nih...
Saya kemudian minta dia to the poin saja..'begini kawan, saya lagi bekerja untuk seorang di selatan sana. (Sengaja tidak kusebut nama daerah), dia tertarik melihat karya kamu...
'Mohon dipertimbangkan tawaran ini. Sudahlah jangan terlalu memaksakan diri. Masa penulis sekelas kamu, bekas pemimpin redaksi cuma dikasih recehan. Atau kamu dibayar bulanan, saya yakin tidak. Bos ingat 'hati yang gembira adalah obat. Di dunia ini tidak ada pemimpin yang sempurna, apalagi dia politisi..
Setelahnya dia pamitan. Saya juga bergegas kembali ke rumah, gegara asam lambungku kumat, mendengar omongannya.
Tiba di rumah, sedikit istirahat. Saya kemudian menulis giat cerdas GSVL.
Setelahnya saya merenung, sebelum dia ketemu saya, getir ini sudah berada di puncak hilang sabar.
Tetapi, harapan saya tidak pernah pudar kawan. Kebetulan kita seiman. Coba kawan baca kisah Nabi Ayub yang diuji ketahanan, ketangguhannya untuk terus berharap padaNya, dan pada akhir dia memperoleh kelimpahan.
Benar, saya mungkin disepelehkan atau dimanfaatkan seperti katamu itu. Tapi sebagai orang yang percaya padaNya, bukankah yang terkebelakang akan jadi terkemudian.
Kawan, kamu juga tak baik. Jika menceritakan kekurangan orang yang saya kagumi, dulu kamu juga pengagum beratnya bukan?
Saya saja yang berkarya penuh loyal dan total. Tidak menyerah, meski dinilai dengan recehan Kenapa kamu yang dulu pernah dekat dengannya, bahkan sempat duduk di jajaran direksi salah satu BUMD, malah balik membencinya.
'Kawan saya tak apa dicuekin, ada kawan atau saudara minta bantuan untuk bisa menduduki jabatan tidak terealisasi. Atau bahkan permintaan terakhirku, sepertinya tidak ada solusi (meski saya tahu karena saya jebolan jurnalis investigasi, saya pura-pura tidak tahu).
'Ini hanya persoalan persepsi. Cara pandang saya dan kamu beda. Karena saya sedang tidak mengejar jabatan di BUMD, saya juga tidak mengincar uang miliaran rupiah. Tapi ini sekali lagi sudah bicara harga diri. Karena itu saya berani mengemis padanya.. 
'Karena seburuk-buruknya seorang yang kita kagumi, tetap akan kita idolai asalkan pemberian diri kita dari hati bukan asumsi. Bukankah, juga tertulis sejelek-jeleknya prilaku seorang ayah, dia tidak akan memberi ular ketika anaknya meminta roti...
Itu jawabanku, saya tahu ini pasti akan di share kepadamu. Satu permintaanku, janganlah menjelek-jelekan orang yang sudah pernah berbuat baik padamu...karena karma berlaku kawan...baik berbalas baik, sabar berbuah nilai, dan komitmen berbuah kepercayaan...terima kasih..God Bless..



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguji Orang Baik

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?