Belajar dari Jam Dinding
Pada dasarnya kita terlahir sebagai manusia yang baik memiliki naluri kebaikan dan empati. Namun terkadang waktulah yang membuat kita berubah.
Itulah proses hidup. Kita kaya, kita berkuasa, kita memiliki segalanya, kita lupa untuk berbuat baik.
Jangankan berbuat baik kepada orang yang tidak kita kenal. Kepada sahabat yang selalu dan sudah pernah melakukan kebaikan dalam hidup kita acap kali kita anggap sepeleh.
Kebaikan yang kita buat sering kali diukur, ditakar dan dianggap tak bermanfaat. Tetapi itu tidak penting, sekalipun orang yang kita bantu tak menganggap, menyepelehkan, di mata mereka kita bukan siapa-siapa, tetaplah jadi orang baik.
Belajarlah dari jam dinding di rumah kita. Dia tetap berdentang, setiap jam, menit dan detik, meski kita sering hanya melihatnya saat kita butuh.
Bahkan kita merasa terusik ketika bunyi jarum jam menganggu tidur kita, tapi jarum itu terus bergerak seakan tak kenal lelah mengingatkan kita soal waktu.
Orang baik layaknya sebuah jam, bagi orang lain kebaikan kita dianggap bukan kebaikan olehnya, bagi orang lain kita dianggap hanya pengganggu, bagi orang lain kita bukan siapa-siapa, bagi orang lain kita bukan masuk dalam hitungannya.
Tapi apakah hal itu akan membuat kita berhenti berkarya, bekerja untuk menghasilkan buah kebaikan. Jangan kawan, orang baik itu akan merima balasan banyak, mungkin dari orang yang tidak kenal, bisa saja.
Namun paling penting Tuhan selalu melihat. Ada anakNya, yang gemar berbuat baik meski dalam situasi sulit. Dia bahkan menepuk bahu kita dan berkata teruslah berbuat baik anakKu, karena perjanjian kita bukan terikat di dunia tapi di surga kelak.
Jadi tetaplah berbuat baik meski tak dihargai, berbuat baik meski disepelehkan, berbuat baiklah meski tidak diterima. Karena hanya segelintir manusia di luar sana, yang hati mereka selalu dipenuhi simpati dan empati. Yang tidak mengukur, menakar, dan menghitung apa yang sudah dia berikan kepadamu.
Tetap pegang prinsip dan komitmen kebaikan. Karena orang baik selalu akan berharga di mata Dia Si Empunya Hidup..

Komentar
Posting Komentar