Kita di Natal Ini



Jujur, sebenarnya saya malu ketika merayakan pra Natal. Malu sama orang miskin dimana di bulan Desember ini saya sedang mencoba memahami, kesulitan, kelaparan mereka, ketiadaan mereka...
Karena kita sedang berpura-pura menjadi mereka, tanpa sedikitpun menjadi mereka. Kita sambut Natal dengan kemewahan, sedang mereka tetap seperti apa adanya. Kita punya hari menyambut sukacita Natal, sedangkan mereka setiap hari merasakan kalah..
Saya dan kawan hanya berpikir kemana Natal ini, baju merk apa, sepatu model bagaimana, sedangkan mereka tergopoh menjalani hidupnya. Kita dengan mudah mengumpul puluhan hingga lusinanan kue dan minuman, sedangkan lapar, kesesakan, air mata menghiasi tiap tarikan nafas mereka..
Bahkan kita lebih senang menjalankan ritual pra Natal tanpa perduli maknanya. Kita lebih senang menyimpan uang untuk memuaskan keinginan diri, tanpa memikirkan berbagi berkat pada mereka yang sedang menghadapi situasi sulit dan tidak berpunya.
Saat Natal kita memamerkan apa yang kita punya pada keluarga, tanpa sedikitpun berfikir bahwa ada kepala keluarga yang bingung ketika anaknya bertanya, "besok kita makan apa, pa?". "Pa, apa bisa beli kaos saja buat ke gereja tanggal 25?". "Pa, sepatu ini nanti dijahit saja?".
Air mata ini kawan.. Natal tahun ini, buat saya selalu merasa malu dan kalah. Kalah oleh kemunafikan kita. Tidak ada sedikitpun yang bisa dibanggakan sebagai kemenangan..."
Natal tahun ini seperti mengingatkanku kembali akan maknanya, Yesus bahkan terlahir di kandang hina. Tetapi kenapa kita malah memewahkannya, kata 'sederhana' selalu kita dengar dalam mimbar gereja namun hilang ketika kaki melangkah pulang.
Kita selalu menghibur diri bahwa sudah melakukan ibadah, padahal kita sejatinya hanya menjalankan sebatas pamer belaka. Saya hanya sekedar mengingatkan, manusia yang berkelebihan namun selalu lupa fungsi dirinya di dunia, menjadi berkat bagi orang lain, satu saat pasti akan merasakan sulit, pedih, dan kehilangan.
Ketika itu terjadi. Kepada siapa kita mengeluh, selain pada Tuhan dan sesama kita.
Ah, seminggu lagi Natal tiba. Coba ku goyang celengan berisi koin receh, mudah-mudahan bisa cukup, sekaligus sebagai teman pengingat kalau diri ini pernah merasakan berada di puncak kejayaan..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguji Orang Baik

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?