Untuk Pak Vicky
Kata mereka masa rumah makan tutup, pedagang dilarang jualan kalau sudah lewat jam 8 malam. Mereka membandingkan saat Pilkada, semua tetap buka, kerumunan di TPS dibiarkan.
Dan semua itu ditimpahkan padamu. Para pembencimu Pak Vicky, tidak mau kamu mikirin kesejahteraan, kesehatan warga. Maunya mereka sembako, dana Lansia jangan disalurkan, inginnya mereka biar saja perayaan tahun baru bikin seperti biasa saja, mereka sengaja membawa nama si miskin biar kamu terhenyu, sedih dan nangis, karena dampak dari surat edaran tentang cegah Covid 19.
Saya sangat mengerti kegundahanmu Pak Vicky, buat baik saja dicaci apalagi kalau salah. Tapi saya sangat yakin, kamu pribadi tegar ditabrak kanan kiri depan belakang oleh mereka yang pada dasarnya tidak ingin kamu masuk konstetasi Pilgub 2024 seandainya UU Pilkada serentak tahun 2016 tidak direvisi.
Saya jadi teringat dua minggu lalu, menjelang Natal biasanya kue, minuman, baju baru buat anak dan istri sudah beres. Tetapi, Natal tahun ini sangat berbeda, bahkan untuk beli beras dan susu buat anak bungsuku saya tidak sanggup.
Ini sungguh diluar dugaan. Bingung, cemas, takut semua bercampur menjadi satu di dada. Dan akhirnya tumpah ruah karena pondasi goyah. Saya merasa menjadi orang paling menderita di dunia.
Dan fase itu harus saya lalui, sampai pada satu saat saya sadar, "kenapa saya harus menangis ?"
Saya teringat kata-kata Yesus. “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Matius 6:25.
Saya tersentak membaca nasihat itu dan berkata pada diri saya sendiri. "Iya, kenapa saya harus kuatir kemudian menjelaskan kepada orang lain apa kegundahan saya? Mereka mempunyai masalah sendiri dan simpati mereka belum tentu simpati yang murni. Sedangkan yang membenci saya pasti akan bersorak gembira mengetahui saya sedang susah.."
Sesudah memahami itu semua, saya berubah menjadi orang yang tidak lagi harus bercerita kepada siapapun, kecuali kepada Tuhan di waktu-waktu sepi.
Dan ternyata bercerita kepada Tuhan menjadikan dada saya yang tadinya sesak menjadi lega. Ketika kelegaan itu datang, maka berkat pun tiba. Ternyata masih ada tangan-tangan baik yang membantu saya, termasuk Pak Vicky. Saya menjadi mampu melihat sisi pembelajaran yang baik dari semua peristiwa.
Saya harus terlihat kuat, karena keluarga saya membutuhkan itu. Jika saya lemah, mereka juga akan lemah. Dan itu sebuah tanggung jawab yang besar, karena saya yakin seorang lelaki akan terlihat ketika ia sedang diuji oleh badai. Bukan masalah seberapa besar badainya, tetapi bagaimana cara kita menghadapinya itu yang terpenting. Dan kita akan dihargai karena itu...
Meski beda persoalan, tapi Pak Vicky harus terlihat kuat dan tidak boleh lemah. Bukan hanya rakyat Manado, banyak rakyat di Sulut yang berharap kepadamu? Mereka membutuhkan punggung lelaki yang kekar, bukan yang terisak. Mereka membutuhkan kekuatan, bukan kelemahan. Karena jika pemimpin mereka lemah, lalu mereka harus bagaimana?
Kan Pak Vicky yang bilang, 'kunci menjadi pemimpin pertama harus takut akan Tuhan, kedua menjadi pelayan, ketiga mampu mencari solusi di tengah masalah, dan yang terakhir maafkan serta tegar terhadap cibiran, cacian, makian'.
Tetaplah menjadi GSVL, yang cuek meski kali ini harus jauh lebih bijaksana. Karena kecuekanmu adalah cerita.
Masalah itu hanya sebentar datangnya. Jalanlah terus dengan optimis, serahkan semua pada Tuhan hasilnya. Semua itu hanya ujian untuk melatih kuda-kuda kita. Tidak usah cemaskan masa depan, itu bukan urusan kita, karena masa lalu kitalah yang seharusnya kita pikirkan.
Katakan kepada semua, "Jangan lagi menjual kesedihan sebagai dagangan. Cukuplah kesalahan itu menjadi catatan, bahwa yang ingin mereka lihat adalah Vicky Lumentut sebenarnya. Bukan Vicky Lumentut yang dijual untuk pencitraan..
Akhir kata, saya senang menjadi bagian kawan setia pendukungmu sampai kapanpun. Kita ketawa bersama dan sedih juga bersama.
Tetaplah seperti Pak Vicky yang punya gaya dan cerita. Jabatan bukan sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Nilai diri kitalah yang seharusnya menjadi ukuran.
Selamat berjuang, Pak Vicky... Selamat bekerja. Kapan-kapan kita minum secangkir kopi lagi sambil bercerita tentang segala hal, termasuk bagaimana seharusnya kita menjadi seorang manusia..

Komentar
Posting Komentar