GSVL Melawan 'Zona Merah'



Ini fakta kita sedang berada di zona merah atau daerah dengan resiko penularan tinggi Covid 19. 
Ini juga fakta hasil Pilkada 2020, Sulut masuk 'zona merah' karena pemimpin terpilih dan yang sedang jalankan tugas mayoritas berasal dari partai warna dominan merah.
Ini juga fakta, kita berada di 'zona merah' virus moral, gampang sekali kita memerahkan wajah orang dengan cacian dan makian. 
Ini juga fakta 'zona merah' ketika Manado dilanda bencana alam, jejaring Medsos lebih banyak upload postingan menakutkan, daripada memberi dukungan moril bagi saudara2 kita terdampak.
Namun bersyukur kepada Tuhan, di tengah 'zona merah' ini. Masih ada pemimpin yang memiliki hati dan pikiran 'zona hijau' bukan abu-abu, itu ada pada sosok Walikota Manado GS Vicky Lumentut.
Saya tidak sedang mencitrakan beliau membabi-buta, tanpa mengetahui siapa GSVL sebenarnya. Saya tidak menyebut dia pribadi paling sempurna, karena tidak ada manusia sempurna di dunia ini.
Saya hanya mau menyebut dia orang baik, yang kemudian dipercaya rakyat Manado memimpin perjalanan bersama hampir 10 tahun. Kenapa baik, ya lihat saja caranya bersikap dan bertutur, aura ketulusan, kesopanan begitu terasa.
Kenapa baik, karena dia mampu meredam emosi secara bijaksana, bertameng jiwa besar untuk memaafkan orang lain.
Sebagai Panglima tertinggi di Kota Manado, GSVL selalu berada di garis depan dalam 'perang' melawan Covid 19, sekaligus sebagai pemberi kekuatan moral bagi anak buah dan rakyatnya dalam menghadapi segala macam kesulitan seperti saat banjir dan longsor melanda Manado berapa hari lalu, GSVL turun lapangan bukan tidur nyaman.
Memakai baju perang bernama kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, GSVL melawan 'zona merah' itu dengan segala resikonya. Dia melecut semangat bawahan dan rakyat sambil berseru, "Hei, rakyat Manado, jangan menyerah. Ayo terus bergerak, bersama kita bisa lawan virus corona, sambil berdoa pada Tuhan dan waspada, kita tidak takut karena kita melakukan hal baik dan benar."
GSVL tidak sibuk minta gelar konferensi pers, terus dengan gaya lebai, taru sedikit minyak kayu putih dibawah mata sehingga kelihatan berkaca-kaca. Dia tidak mau beretorika palsu, semua disampaikan dan dilakukan dengan apa adanya, berdasar kerelaan dan keikhlasan hati.
Sejatinya pemimpin harus seperti GSVL. Kalau saya orang kepercayaan Pak De Jokowi. Saya pasti bisik ke beliau, 'pak beliau cocok jadi menteri, karena beliau bisa menyeimbangi kerja Pak De di lapangan'..
Di situasi semua serba 'zona merah' saat ini. GSVL menunjukkan keberanian dan karakter pemimpin pekerja, pemimpin pelayan.
Dia seakan ingin menohok wajah mereka yang sering hina, fitnah dan maki dirinya, 'begini loh, jadi pemimpin'. Kerja terdepan, bukan main perintah bawahan dari belakang. 
Apalagi ada segelintir bawahan GSVL, saat ini terpapar virus ketakutan, memilih masuk 'zona merah' kalau tidak bisa saya sebut ' zona abu-abu', mereka kuatir kelak setelah GSVL lepas jabatan mereka tidak lagi berada di 'zona nyaman'.
Entah, mereka sadar atau tidak, GSVL itu jebolan birokrat. Dia pernah merasakan bagaimana sedihnya ketika di-non jobkan. Dia pernah merasa kecewa, ketika dipaksa harus mengosongkan rumah dinas, gegara dicopot dari jabatan.
Di sini bukan soal non job, diberhentikan. Tetapi bagaimana GSVL menyikapinya. Dia tetap memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. 
Dia tidak suka jadi penjilat demi jabatan, 'mengalir saja, keputusan atasan harus kita hormati, saya harus loyal dalam segala situasi. Ingat saja ini, bahwa apapun yang terjadi hidup kita ada dalam rencana dan rancangan Tuhan'. Begitu kata GSVL tempo hari.
GSVL membawa narasi lurus, bahwa pemimpin baik itu adalah pemimpin yang menjadi inspirasi, bukan pemimpin pencari sensasi berharap aroma tercium menyengat bak terasi.
Kalau pemimpin perang seperti GSVL, sekali lagi bukan mau mendahului kehendak Dia Yang Maha Kuasa, tetapi daerah ini pasti, maju, makmur, tangguh dan sejahtera. 
Karena kita punya seorang yang bisa jadi teladan, mengarahkan kita di koridor tepat hingga tujuan bisa tercapai. 
Rakyat daerah ini butuh pemimpin penggerak bukan pemimpin penggertak, kita ingin pemimpin pelayan bukan pemimpin maunya dilayani, kita ingin pemimpin bertindak bukan pemimpin yang gemar menebar sensasi diri.
Lets go, Pak Vicky...tuntun kami dalam upaya keluar dari 'zona merah' yang sangat tak nyaman ini. Saya menunggu kabar dari bapak giliran diajak minum kopi, saya siap bekerja membantu bapak demi baiknya daerah ini..
Kata status familiar itu, 'kalau bukan kita yang melakukan siapa lagi'!...tetap semangat, jaga kesehatan dan senantiasa berbuat baik pak...God Bless..(jeklyMS)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguji Orang Baik

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?