Kalau Berat Dukung GSVL, Biar Saya Saja




"Kawan pak Vicky tinggal lima bulan menjabat walikota. Habis itu karir beliau pasti meredup atau bahkan hilang, coba dukung saja figur lain yang lebih berpeluang menang di Pilgub 2024 (kalau UU Pilkada Tahun 2016 tidak direvisi)".
Saya kaget, karena selama ini kawan saya itu pendukung berat kalau tidak bisa disebut militan. 
Aneh, masa kekuatan GSVL itu dihitungnya karena jabatan kepala daerah. Kalau begitu  Bung Olly, ngak bakalan jadi gubernur karena beliau hanya anggota dewan terus maju di Pilgub 2015.
Ini nih, pikiran sempit. Kawan kapasitas seseorang untuk jadi pemimpin bukan dilihat dari masih menjabat atau ngak, punya duit segunung apa ngak, punya partai besar atau ngak. Tapi semestinya dilihat dari kapasitas,kredibilitas dan integritas.
Kenapa saya tulis 'semestinya', karena selama ini pola demokrasi kita di Sulut masih jauh dibanding Pilpres ketika Pakde Jokowi yang sama sekali tidak ada potongan presiden bisa terpilih. Atau Joe Biden, yang sukses mengalahkan miliarder sekaligus petahana Donald Trump di Pilpres AS.
Alasan saya sebut masih jauh, karena sebagian besar rakyat Sulut pilih pemimpin, urusan layak atau tidak nomor dua, yang penting lagunya dulu.. "ada uang abang ku sayang, tak punya uang abang melayang". 
Sudah, ngak usah ditutupi, modal 150 ribu saja bisa jadi walikota. Karena itu, saya mau mencoba mengubah cara pandang tersebut. 
Meski berat, tidak ada salahnya untuk mencoba. Karena pemimpin yang kita pilih, menentukan nasib kita selama lima tahun. 
Ingat selama suara kita bisa dibeli dengan angka seratus, dua ratus ribu. Percaya daerah ini tidak akan pernah maju, rakyatnya terus akan jauh dikata sejahtera.
Tapi kata2 kawan itu ada benarnya juga. Memang berat mendukung GSVL. Karena figur pemilik kompetensi dan integritas seperti beliau, rasa2nya belum mendapat tempat di hati rakyat, selama money politic belum hilang.
Pun kalau begitu, biar saya saja yang akan menopang GSVL meski berat. Kawan sejak awal saya berharap ada sosok cerdas, kuat dan memiliki komitmen membangun Sulut.
Dan harapan itu jatuh pada seorang yang sangat sederhana, dengan rekam jejak bersih, kualitas kepemimpinan tak perlu diragukan lagi.
Ketika dia terpilih jadi walikota di 2010, ada rasa senang di dada, seiring dengan keraguan dalam benak sebagian besar orang, "Bisakah dia seperti yang kita harapkan ?"
Hampir 10 tahun memimpin Manado, GSVL menunjukan bukti kalau ia mampu. Meski tidak sedikit juga yang menghujat, memfitnah dirinya.
Atas tuduhan, fitnahan, cacian itu. Saya tidak terpengaruh, saya tetap akan melihatnya secara rasional. Bagi saya, penilaian proporsional pada sesuatu, itu berdasarkan rekam jejak, bukan berdasarkan perasaan emosional.
Dan dari rekam jejak GSVL memimpin Manado, saya menemukan bahwa apa yang dianggap kelemahan selama ini kepada GSVL, ternyata disanalah sumber kekuatan..
"Dia orang baik dan takut akan Tuhan .." Begitu tulisku pertama kali.
Saya menggambarkan bahwa GSVL jangan dilihat sebagai seorang petarung yang menggunakan fisik sebagai senjata. Ia adalah petarung dengan mengandalkan Tuhan disertai ketajaman intuisi.
Kalau mau GSVL bisa saja ngotot dicalonkan Nasdem maju Pilgub tahun lalu. Tapi, ia lebih memilih mengalah. Karena kalau saja filing politiknya tak jalan, bisa jadi yang diterimanya kekalahan.
Sudahlah soal istri yang kalah di Pilwako Manado, bukan rahasia lagi, kalah karena ehmm...itu tu duit beli petasan 150 ribu...coba kalau sama-sama jujur, bersih di Pilwako, bukan melawan kehendakNya. Saya optimis seratus persen, istri GSVL, Prof Paula jadi walikota..
Ah, sudahlah. Lanjut ngomong soal GSVL..
Dia sanggup mengayuh sepeda berjam-jam hanya untuk menyapa rakyat, sampai melihat situasi kota Manado, dan progres pembangunan. 
Mau diajak kemana, ke tempat pembuangan sampah ayo, melayat kedukaan mari..melayani jemaat oke.. Itu kenapa saya takjub. GSVL memiliki sebuah kekuatan kesabaran, semangat juang yang jarang kita jumpai..
GSVL adalah  "The man with the winning strategy". Pembawaannya yang tenang dan terlihat lemah, adalah kekuatannya sejati. Ia mengukur semua langkah dengan cermat dan mengambil keputusan yang jarang terpikirkan banyak orang. 
Semua itu membutuhkan kecerdasan dan perhitungan matang. Dan jelas kesabaran adalah kunci utama untuk meraih kemenangan..
Karena itu, saya tetap mempercayainya seperti awalnya. Saya yakin ada strategi menarik yang baru bisa tertebak arahnya ketika akhirannya mendekati. 
Awalnya boleh pahit, tapi akhirannya biasanya berakhir manis. Dan tidak mudah menebak apa yang dia lakukan. Karena strategi, jika bisa ditebak, bukan lagi sebuah strategi. Kita hanya bisa mengira-ngira tapi dia yang lebih tahu semua gambar besarnya..
"Tenang saja.." itu kata saya kepada kawanku yang mulai hilang gairah mendukung GSVL.  "Ikuti saja permainannya dan tidak perlu mengambil banyak kesimpulan. Sebuah film seri tidak akan menarik jika kita tidak mengikutinya secara lengkap. GSVL bukan seorang pecundang. Apakah rekam jejaknya selama ini tidak menjadi pelajaran ?"
Saya tersenyum. Sambil menerawang, mungkin kawanku tadi berpikir, kalau GSVL sudah tidak walikota terus dapat apa tahun2 ke depan mendukungnya untuk jadi gubernur..Sekali lagi, biar saya saja kawan yang tetap berada di belakang beliau, apapun yang terjadi...
Biar saya saja yang akan merenda hari, susah senang, tangis tawa bersama beliau. Memang permainan menuju Pilgub masih lama, tetapi lebih baik jauh hari sudah dimatangkan...
Jauh lebih menarik game menuju Pilgub dengan melihat siapa saja sosok yang akan ikut meramaikan bursa nanti. Kan, pak Olly sudah tidak bisa nyalon lagi.
Bukankah dalam sebuah pertandingan, lebih afdol kalau ada pesaing sepadan..
Ronaldo tak mungkin termotivasi hingga jadi pemain terbaik dunia jika bukan karena ada pesaing bernama Lionel Messi.
Mike Tyson berusaha mempertahankan gelar juara dunia kelas berat tinju, meski pada akhirnya Tyson pakai trik curang gigit telinga Evander Holyfield.
Kawan, pemenang Pilgub (meski masih lama) nanti, ditentukan oleh matangnya persiapan dan kekuatan mental. Siapa yang kuat, dia yang bertahan. Kawan, seperti kukatakan tadi kamu si baperan, "Mendukung GSVL itu berat, biar saya saja.."
Mudah2han  senyum kawan terbentuk kembali diwajah. Kurasa kawan akan mengerti akhirnya..biar kelak judul tulisan saya ubah, "Mendukung GSVL itu berat, tapi yakin bersama kita bisa"...(jeklyMS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguji Orang Baik

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?