Cerita Untuk Pak Vicky




Selamat malam Pak Vicky...
Aku mau menulis sebuah cerita untukmu, mudah2an sudi Pak Vicky membacanya..
Aku baru saja pulang dari sebuah rumah kopi di bilangan jalan A Yani..
Tadi di Warkop itu, tidak sengaja aku mendengar ada berapa orang lagi ngobrol di samping meja tempat aku dan seorang kawan lagi duduk menikmati secangkir teh tawar pasangannya pisang goroho goreng tepung...
Tahu ngak Pak Vicky, apa yang mereka omongin...Pilkada 2024. 
Ada tanya seorang pria kepada kawannya yang lain..kira2 sepert ini. "Tiga taon nda mo dapa rasa. Kalu Pilkada 2024 nanti, sapa calon gubernur yang paling berpeluang?...
Dari sekitar tujuh orang yang lagi duduk. Empat orang menyebut nama Pak Vicky. Yang lain menyebut figur lain.
Pengen ikutan ngobrol, tapi aku malu. Karena aku tak kenal mereka..nanti dikirain kepo...
Padahal jika saja di antara mereka ada yang  aku kenal.. Aku pasti nimbrung, bercerita kepada mereka tentangmu. Tentang mimpimu. Tentang cita-citamu. Tentang visimu, untuk Sulut tercinta.
Aku sempat beberapa kali melirik ke meja mereka. Empat orang yang menyebut namamu, kulihat binar-binar harapan di mata mereka.
Mereka benar2 kagum padamu, bukan kagum dibuat2 tapi benar-benar kelihatan dari hati. Pak Vicky, kata mereka kamu sosok pemimpin bersahaja, pemimpin pelayan, dan pemimpin cerdas. Dengan karya-karyamu. Dengan ketulusanmu. Dengan kebaikan hatimu. 
Sungguh Pak Vicky, cerita ini benar. Makanya jadi sumber inspirasi bagiku untuk menulisnya.
Belum pernah kulihat cinta yang sedahsyat ini. Dari tujuh orang, empat yang mengagumimu. Hati ini bangga luar biasa, bisa jadi keempat orang itu merupakan representasi dari sebagian besar rakyat Sulut.
Kuyakin kekaguman mereka pada Pak Vicky karena semangatmu. Ya, semangatmu yang menular ke seluruh penjuru Sulut, tubuhmu menyimpan begitu besar energi, engkau seakan tak pernah lelah ketika kerja melayani rakyat dan menjadi pelayan Tuhan.
Dari bincang itu, mereka tidak berharap keuntungan apa yang mereka dapat kelak jika engkau jadi. 
"Orang baik harus dibela, bos. Jika bukan kita, lalu siapa lagi ??" begitu pernyataan seorang diantara mereka.
Ah, rasanya aku ingin nyanyi lagu Indonesia Raya. Ada kebanggaan didadaku sekarang terhadap cara pandang rakyat mengenai pemimpin yang ideal bagi daerah ini. 
Mereka seperti sudah muak dengan segala kemunafikan pemimpin sekarang yang hanya hebat bangun dinasti kekuasaan, sibuk cari untung sendiri.
Sulut tercinta harus aku bela, bukan buat diriku sendiri tetapi buat anak cucuku nanti.
Bagi mereka, dan bagiku juga, engkau bukan sekedar sosok ataupun nama. Engkau sudah menjadi simbol kedaulatan, keberanian dan harapan keadilan bagi seluruh rakyat Sulut.
Jangan pensiun dan jangan pernah lelah mencintai bumi nyiur melambai ini pak. Seperti jangan pernah juga lelah mencintai kami.
Sehat selalu dan fokus berkontribusi lewat gagasan dan cara pandangmu untuk membawa Sulut semakin baik.
Eramu di Kota Manado sudah selesai. Tapi masamu bagi Provinsi Sulut baru saja dimulai.
Engkau lebih tahu bagaimana mengemas strategi babak demi babak hingga nanti Pilkada 2024.
Urusan provokator yang main hoax dan sibuk memfitnah bapak, biar urusan kami. Kami paham, bagaimana cara kendalikan mereka yang dadanya selalu membusung hebat. Cukup dikasih permen karet merek 'sedawak' (semua ada waktunya), dada mereka langsung susut..
Salam buat  Prof Paula dan seluruh keluarga.
Dari
Saya dan mereka di rumah kopi tadi yang bangga mengagumimu...
Salam sehat, salam bersih dan salam rukun...God Bless You...(JM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguji Orang Baik

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?