Legacy GSVL Untuk Keluarga
10 tahun masa kepemimpinan selaku Walikota Manado, GSVL telah meninggalkan begitu banyak legacy (warisan) bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Kota Manado.
Dan itu bukan cerita mengada-ada begitu banyak buktinya. Kalau saya tulis satu persatu tidak akan pernah cukup menjabarkannya, hanya dalam sekali, sepuluh kali, seratus kali, seribu kali bahkan lebih.
Legacy GSVL dalam tugas dan pengabdian, maupun pelayanan selaku Ketua Pria Kaum Bapa (P/KB) GMIM, yang masih diemban sampai sekarang. Adalah gambaran keteladanan dan contoh, tentang seorang pemimpin yang tegar berdiri menghadapi persoalan, teguh memegang prinsip kebenaran, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
Dia satu dari segelintir pemimpin pelayan terbaik yang pernah ada di Sulut dan Indonesia.
Lantas bagaimana dengan cara GSVL, dalam kapasitas selaku kepala keluarga, imam dan raja dalam rumah tangga. Bagaimana ia membangun komunikasi, mendidik, mengajarkan hal2 positif membawa keluarganya menjadi keluarga yang takut akan Tuhan sebagaimana dirinya.
Bukan rahasia lagi, keluarga GSVL selalu jadi sorotan publik. Positifnya sorotan itu semua tentang hal2 baik, bagaimana GSVL ditopang penuh dalam segala hal oleh istri tercinta Prof Dr Julyeta PA Runtuwene MS, selaku ibu rumah tangga dan tiang doa keluarga.
Prof Paula menjadi penyeimbang dan tempat GSVL menyampaikan curahan hatinya. Ada arahan dan nasihat dari Prof Paula, agar GSVL senantiasa dalam mengayu langkah hidup dan mengambil keputusan selalu meminta petunjuk dari Tuhan.
Meski GSVL juga merupakan pribadi yang bergaul akrab dengan Tuhan, setiap hari ia memulai aktivitas dengan doa, pujian dan membaca Firman Tuhan. Prof Paula, bukan sekedar memberi masukan pada GSVL. Dalam setiap doanya selalu terselip nama suami tercinta, anak2 dan cucu.
Bagaimana dengan anak2. Apa legacy terbesar dari GSVL kepada anak2nya? Kehormatan dan kebahagiaan Itu yang utama..
Kata GSVL, dua hal itu merupakan kunci utama mendidik anak dan menjaga keharmonisan keluarga.
GSVL pernah mengatakan. Pada akhirnya, anak2nya akan berdiri sendiri tanpa didampingi dirinya dan istri.
Dan kewajiban ia sebagai orangtua adalah memupuk dengan mengajarkan terus prinsip-prinsip kehormatan diri dan kebahagiaan hati yang akan menjadi bekal anak2nya dikemudian hari.
"Selain menjaga kehormatan dan memiliki hati yang senantiasa dipenuhi kebahagjaan. Prinsip lainnya adalah sikap hormat kepada orang tua dan orang lain, kejujuran, rasa percaya diri, cara bersikap dalam kebebasan lewat koridor berpikir dan bertindak sesuai ajaran Tuhan tentunya.." tutur GSVL.
"Warisan saya dan istri kepada anak2 dan cucu, tidak berupa materi berlimpah tapi pada hakikat hidup yang selalu bersandar pada Tuhan. Karena kalau sudah takut akan Tuhan saya yakin pendidikan yang mereka peroleh atau apapun yang Tuhan anugerahkan kepada mereka nanti. Akan digunakan berdasarkan hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan dan bermanfaat bagi sesama. Tidak perlu mengejar nafsu duniawi dengan menghalalkan segala cara. Jalani saja hidup dengan bahagia dan sukacita iman, itu sudah lebih dari cukup.." tutur GSVL bijak.
Sesudah bekal prinsip hidup itu ditanamkan. GSVL dan Prof Paula yakin anak2 mereka sudah sangat siap ditempa oleh ganasnya kehidupan.
Kelak mereka juga akan merasakan pahitnya hidup, penghianatan, kegagalan dan kekalahan, karena tidak ada manusia di bumi ini yang tidak akan mengalaminya. Namun GSVL percaya, dengan merasakan hal2 itu, anak2nya akan belajar cara bertarung tanpa harus menggunakan fisik melainkan hikmat Tuhan, kemampuan bertahan tanpa harus memakai cara2 tidak baik selain mengandalkan kebijaksanaan dari Tuhan.
Kiat itulah yang membuat GSVL berhasil mendidik anak2nya, tumbuh menjadi dewasa bukan hanya secara jasmani tapi juga rohani.
Pribadi mereka matang bukan masak karbitan. Anak2 GSVL, tegar, kokoh tidak gampang goyah. Mereka bijaksana dan tidak emosian.
Begitulah cara GSVL mendidik anak-anaknya sehingga mandiri, merasa malu berada dibawah bayang-bayang kebesaran nama orangtua mereka, sehingga konsep kehormatan dan kebahagiaan hati itu akan mereka jaga, bukan sekedar buat orangtua mereka atau nama keluarga mereka, tetapi untuk diri mereka sendiri..
Keberhasilan GSVL mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang tidak manja, tidak aji mumpung dan tidak besar kepala. Menjadi ukuran bahwa ia juga menerapkan hal yang sama pada saat masih aktif selaku walikota, dan tugas melayani sebagai Ketua P/KB Sinode GMIM saat ini.
Bagi saya. Sebagaimana posisi GSVL sekarang sebagai rakyat biasa, seperti mendidik kita supaya menjadi rakyat petarung, cerdas, mandiri dan kreatif juga stabil dalam menghadapi setiap guncangan..
Mantap GSVL..legacy tentang hidup dalam kehormatan dan menjaga kebahagiaan hati dalam segala situasi dan kondisi. Sungguh sangat berharga bagi kami sebagai sahabatmu dan sesama rakyat di Provinsi Sulut.
Nasihatmu agar kebaikan harus selalu diselaraskan dan diimplementasikan dalam pikiran, perkataan dan tindakan, kiranya menular kepada kami semua.
Kami tunggu engkau di 2024, meski jalan menuju kesana akan begitu banyak ujian yang akan menghadang derap langkahmu. Tapi teruslah berjalan.
Sebagaimana kata bijak ini, "ketika kita menanam padi, akan ada rumput yang ikut tumbuh bersama padi. Tetapi ketika kita menanam rumput, tidak ada padi yang ikutan tumbuh. Demikian juga dengan kebaikan, setiap kali kita berbuat baik akan ada hal-hal buruk yang akan terjadi. Namun saat kita berbuat keburukan, pasti tidak akan ada kebaikan yang mengikuti."
Tetap baik, jadilah teladan kebenaran dalam keluarga, jemaat serta masyarakat. Kiranya Tuhan Yesus selalu menjaga keluar masukmu bersama keluarga besar Lumentut-Runtuwene. Salam sehat dan salam rukun, ayo terus bergerak. (jeklymassie)

Komentar
Posting Komentar