Sulut Butuh GSVL





Judul diatas pasti akan kembali memunculkan tuduhan bahwa saya adalah penulis bayaran. Saya sudah kenyang dengan tudingan itu. Bahkan ada yang menghitung kalau saya mendapat, ratusan juta hingga miliaran rupiah demi mempromosikan GSVL.
Apa iya, saya tidak bisa menulis tentang sosok yang menurut saya layak dijadikan teladan dan panutan. Tentang bagaimana seorang pemimpin itu memimpin.
Sejak munculnya GSVL ke permukaan, saya sudah kagum dengan orang ini. Saya mempelajari track record perjalanannya, saat ia menyelesaikan serta meminimalisir masalah korupsi, banjir bandang Manado 2014, dan pandemi Covid 19 dengan sangat elegan, sampai bagaimana ia sabar namun santai menanggapi 'perselisihannya' dengan lawan politik.
"Sulut butuh GSVL..." ini yang ada di benak saya.
Saya makin menjadi Diehard fans GSVL,  justru ketika ia pensiun dari tugas dua periode Walikota Manado. Disaat sebagian orang menjauhinya, berbalik mendukung pemimpin baru di Manado dan cari muka ke pemimpin Sulut. Saya merasa bangga. Iya saya bangga ternyata takar kesetiaan ini bisa melewati ragam godaan. 
Ingat kawan, sebelum kalian menghindari GSVL. Pernah satu kali saya membuat tulisan, saat itu GSVL masih walikota dan banyak orang berada di sekelilingnya. Judul tulisan itu, 'KALAU BERAT DUKUNG GSVL BIAR SAYA SAJA'.
Lanjut..Bagi saya GSVL seperti bidak kuda dalam permainan catur. Dengan mudah ia meloncat, kesana kemari tanpa bisa ditebak atau 'dibunuh' oleh bidak lainnya. Lawan politiknya bingung, sedang apa GSVL di masa pensiunnya ini.
Apa ia sedang menyusun strategi baru. Dan ketika tiba saatnya ia akan muncul sebagai sebuah kejutan hingga tidak ada opsi lain dari lawan politik, selain mendekatinya.
Saya tidak tahu apa yang sedang GSVL lakukan. Bertemu beliau saja, usai tak lagi menjabat walikota tidak pernah. Bahkan wa saya tidak pernah dibalas. Tapi bagi saya itu tidak jadi kendala. Karena saya tipikal orang yang sekali mengatakan saya dukung, saya tetap akan setia pada komitmen itu. Kecuali sekali lagi GSVL sendiri yang mengatakan, "makase banya Jek, sampe jo dulu di sini tu ja beking kita pe ucapan dengan tulisan.."
Saya belajar komitmen dari seorang pemimpin besar yang pernah hadir di Sulut, Alm Dr Drs SH Sarundajang. Dari SHS saya ditatar untuk memegang komitmen. 
Pernah satu waktu beliau telpon saya. Nada suaranya biasa saja, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa. Karena hampir dua minggu, saya tidak membuat ucapan harian yang biasa di share via BBM waktu itu belum ada wa.
Tetapi meski kecewa. SHS tetap menepati janjinya pada saya. Begitu melepas jabatan gubernur. Saya diundang khusus ke rumahnya. Dan wouuww..saya dapat hadiah kendaraan.
"Jek ini tu kita ada janji pa ngana waktu lalu. Biar oto bekas, mar mudah2han boleh ada manfaat for ngana. Jadi Jek kalu ngana mampu jaga komitmen. Berarti ngana mampu jaga kepercayaan.."tulisan ini baru pertama kali saya ceritakan. Karena Almarhum paham menilai karakter sababatnya, mana yang setia dan mana yang palsu.
Saya sendiri tidak menyangka akan dinilai sebegitu besar. Karena bagi saya apalah artinya saya di mata SHS.
Namun kebahagiaan saya, Almarhum tindak menghitung angka lewat harga, melainkan nilai. Karena jika saya tidak memberi nilai, berarti saya tidak bisa bermanfaat bagi orang lain.
Maaf sedikit keluar jalur..Biasa "kita kalu enda smokol, tu tulisan lengkali ja melenceng..😁😁
Oke terus...Dalam pandangan saya hanya di tangan GSVL. Sulut akan menemukan kejayaannya kembali sebagai daerah yang maju, sejahtera dan berwibawa. Karena itu saya terus mendukungnya dengan segenap hati bukan karena saya digelontori uang sekarung, tetapi orang baik harus diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.
Rekam jejaknya yang bersih dari korupsi dan kemampuan mengelola pemerintahan ditambah ketegasan dan kecerdasannya dalam memimpin, adalah cerita baru bagi saya sesudah puluhan tahun banyak pemimpin yang ngakunya jago tapi ternyata banyak tipu daya.
Dan dengan semangat membaja, sayapun menulis pandangan-pandangan saya tentang sepak terjangnya memberantas korupsi, menyelesaikan dan mengurai banyak masalah. Namun sisi kesahajaan dan kesederhanaan dalam melayani rakyat dan jemaat dijalankannya dengan baik.
Yakin saya, ketika tulisan ini menyebar.  Tudingan akan kembali diarahkan kepada saya bahwa saya dibayar miliaran rupiah. Ah, senangnya ketika orang lain menghargai saya begitu tingginya, walau cuman "katanya" tapi ngak ada duitnya.
Manis, asam, asin rasanya. Ketika saya lagi-lagi disebut timses yang dibayar miliaran rupiah.
Hitung saja, sudah berapa puluh miliar saya dapat dari mendukung Almarhum SHS dan kemudian GSVL.
Wahh.. harusnya saya sudah minum teh di private bungalow mewah di Bali, bukan di warung kopi enam ribuan sambil dipelototin  tante penjaga warung karena masih ngutang.
Jadi memilih pemimpin semestinya mudah. Lihat track recordnya, jangan lihat duitnya. Lihat kemampuan dan kecerdasannya, jangan lihat materinya. Lihat kesahajaan dan kesederhanaan, jangan termakan kelihaian dan tipu muslihat yg kelihatan sempurna tapi isinya nol besar.
Gampang, kan?
Seharusnya pihak lawan GSVL kasihan sama saya. Tolonglah bayarkan hutang saya di warung kopi, maka mungkin saja saya mendukung anda. Mungkin, lho ya..
"tapiii..maap kata 'mungkin' itu sebenarnya, ti...ti...dak.." (JM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguji Orang Baik

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?