Yang Eksis, Konsisten Sapa Rakyat dan Manfaatkan Medsos Pemenang Pemilu 2024
Tok..Komisi II DPR bersama KPU menyepakati pencoblosan Pemilu anggota legislatif dan Presiden/Wapres 2024 digelar pada 28 Februari 2024, sedangkan Pilkada serentak dihelat 27 November 2024 . Dan menariknya. Tahapan Pemilu 2024 dipercepat dimulai pada Maret 2022 tahun depan.
"Odo kalu bagini, Capres, Caleg dengan calon kepala daerah so musti pasang kuda-kuda dari sekarang.." begitu kata seseorang via inbox facebook milik saya.
Tidak juga kawan..kalau yang dimaksud, 'kuda-kuda' itu adalah kampanye. Tahun ini masih terlalu dini dan langgar aturan.
Tapi jika itu bicara eksis dan konsiten menyapa rakyat, bagi Capres, Caleg, calon kepala daerah, itu wajib hukumnya dilakukan.
Apalagi era sekarang, sapa rakyat tak harus repot2 lagi. Manfaatkan akun Medsos tentu dengan ucapan2 positif, yang dibuat secara profesional.
"Kalu petahana apa yang dorang mo beking supaya rakyat pilih ulang.." kata dia lagi.
Begini. Buat petahana yang baru dilantik tahun ini, modalnya sama seperti tadi. Rajin sapa rakyat, manfaatkan era Medsos sekarang dengan memberi ucapan yang dikemas menarik dengan kata2 positif menebar kebaikan, jangan asal jadi atau asal ada. Selanjutnya, ya tepati janji sewaktu kampanye lalu.
Kawan rakyat kita mudah lupa. Kalau mau maju dan jadi pemenang Pemilu dan Pilkada 2024. Perhatikan ini. Rakyat akan melihat calon yang eksis dan konsisten, serta komit pada janji.
Menjaga elektabilitas dan akseptabilitas, itu sebenarnya gampang-gampang susah. Dan terkadang meski masyarakat suka kepada calon, tapi belum tentu mereka memilih si calon tadi, ada banyak faktor yang harus diperhatikan. Iya, karena karakter pemilih kita memang sangat susah ditebak.
"Sehari menghilang, butuh satu bulan buat meyakinkan rakyat bahwa dia masih ada. Bayangkan kalau sebulan atau setahun tak berinteraksi dengan rakyat, tidak ada sapa langsung atau memanfaatkan jejaring Medsos. Butuh berapa tahun dia bisa kembali merebut simpati rakyat.." itu kata pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politika Junarto Wijaya.
Kalau saya beri contoh gampang saja. Rakyat se-Indonesia tidak akan mengenal nama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, jika dia Gaptek. Ganjar tahu betul, bahwa dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta.
Maka Medsos benar-benar dimanfaatkannya dengan memberi ucapan lewat narasi positif dan dikemas apik lewat tim informasi dan komunikasi miliknya yang terdiri dari beberapa orang profesional.
Ganjar tak mungkin harus mengunjungi satu persatu daerah di Indonesia, apalagi dia sendiri belum ditetapkan sebagai Capres.
Tapi kawan lihat sendiri hasil survei. Ganjar yang di tahun 2019 hingga awal 2020, masuk 10 besar saja kesulitan, kini melejit di tiga besar Capres di sejumlah lembaga survei.
Itu karena apa, Ganjar selalu eksis dan konsisten menjaga elektabilitas dan akseptabilitasnya. Dia tahu bahwa rakyat sekarang butuh diperhatikan. Nah, caranya lewat Medsos.
Ganjar, hampir mirip dengan Presiden Jokowi. Yang membedakan, ketika mau maju di Pilgub Jakarta. Jokowi harus rutin sapa rakyat 'blusukan' istilahnya. Karena waktu itu Medsos belum segencar sekarang.
Begitu jadi Presiden, Jokowi memanfaatkan maksimal Medsos sebagai media komunikasi menjalin komunikasi dan membangun 'cinta' rakyat pada dirinya, tak heran di 2019 dia terpilih kembali untuk periode kedua.
"Kemana-mana bapak harus ada tim khusus Medsos. Mereka itu membuat giat dan ucapan2 beliau. Setiap hari dari senin sampai minggu ada staf yang khusus membuat ucapan2 harian bapak. Ini sebagai bagian dari ajakan bapak kepada rakyat untuk selalu termotivasi membangun negeri," kata mantan Jubir Presiden Jokowi, Johan Budi medio 2017 silam.
Jangan juga melupakan Basuki Tjahaja Purnama atau yang kemudian biasa disapa Ahok. Meski tak terpilih jadi Gubernur DKI, Ahok tetap menjalin akrab hubungan emosional dengan warga DKI.
Sekalipun di penjara, Medsos Ahok tak pernah sepi. Ahok rajin membagikan postingan. Dan kembali ada beberapa orang profesional menggarap ucapan harian Ahok, yang menyejukkan dan mendamaikan.
Ahok sadar, kalau dirinya sendiri yang memposting atau membuat status. Sisi emosi bisa saja merusak citranya.
"Saya manusia biasa. Bisa emosi, untung ada kawan-kawan yang tetap setia bersama saya..apa mereka dibayar. Ya, iyalah, kasihan terus mereka makan apa kalau hanya diberi ucapan terima kasih.." kata Ahok yang digadang akan kembali maju di bursa Gubernur DKI Jakarta.
Hasil survei, Ahok bersaing ketat di tiga besar, bersama Gubernur DKI Anies Baswedan dan Menteri Sosial Tri Rismaharini.
Ok..Kalau, Jokowi, Ganjar dan Ahok masih kurang. Saya beri contoh yang lain.
Mau jadi kepala negara, kepala daerah atau anggota dewan. Lihat contoh, Joseph Robinette Biden Jr. Atau kemudian dikenal Joe Biden. Eksistensi dan konsistensi, jadi modal utama Biden memenangkan Pilpres Amerika Serikat.
Sebelum Pilpres AS tahun 2020, selain melakukan lobi di Partai Demokrat untuk dicalonkan sebagai Presiden AS. Biden sudah membentuk tim kecil yang dikhususkan menggarap Medsos lewat ucapan harian.
Bahkan, dalam satu hari ada dua ucapan Biden bagi warga AS lewat akun Medsos-nya, misalnya hari Minggu. "Happy Sunday & Good Morning America" dan "Happy Sunday & Good Night America"..yang kemudian ditambah kata-kata bijak yang menginspirasi dan memotivasi.
Hasilnya lihat saja, Biden dalam usia yang tak muda lagi 78 tahun tepatnya. Sukses menjungkir balikan prediksi, dengan mengalahkan petahana Donald Trump.
Di Medsos juga Trump dikenal pengguna aktif, sayang sebagian besar cuitan atau status Medsos-nya kebanyakan menggambarkan emosi pribadi diri sendiri yang berakibat negatif, dia tidak seperti Biden yang memakai jasa orang-orang profesional untuk menggarap Medsos dengan menebar optimisme dan motivasi.
So, siapa yang akan memenangkan Pileg, Pilpres dan Pilkada 2024, kita tunggu tanggal mainnya. (jeklymassie)

Komentar
Posting Komentar