Doa Untuk Para Nakes

 
 
 "Pak Jek berdoa akang torang ne.." pesan pendek itu masuk di inbox messenger FB saya tadi pagi.
Saya melihat foto profilnya, dia seorang pria paruh baya tenaga kesehatan di RS Kandou Manado. Dan khusus menangani pasien Covid 19.
Saya kemudian membalas, "pasti akan saya doakan, sehat selalu, jaga imun tubuh, kerjalah dengan pikiran bahagia.."
Namun jawaban saya itu, tidak dibalasnya lagi. Mungkin dia sedang sibuk urus pasien positif Covid 19 yang kembali melonjak di Sulut.
Dia dan rekan2nya sedang berjuang keras menyembuhkan para pasien virus Corona yang bertambah.
Berapa hari belakangan ini, merupakan saat2 yang melelahkan bagi para dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya yang mendapat tugas ekstra. 
Mereka bukan saja lelah, tapi juga berada pada situasi yang berbahaya. Mereka rentan terpapar virus, karena bersentuhan langsung dengan pasien yang positif terkena Corona.
Meski sudah pakai alat pelindung diri (ADP), bukan berarti mereka aman.
Saat kita  jadi pengamat, 'sok tahu' soal virus ini, membagikannya lewat jejaring sosial. Para dokter dan perawat bahkan tidak memegang smartphone, mereka jauh dari riah riuh Medsos. Bagi mereka status FB, Ig, wa, bukan kewajiban. Hal yang mereka pikirkan bagaimana agar pasien Covid segera sembuh.
Mereka bahkan terperangah ketika masih banyak masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan, tanpa memikirkan ekses negatifnya. 
Mereka tahu, itu bukan kapasitas mereka menentukan. Tugas mereka hanya menyembuhkan, dan tidak terkait dengan agenda politik. 
Para dokter itu juga tidak perduli pada seruan beberapa anggota dewan yang berusaha meraih keuntungan pribadi dari situasi, padahal ketika situasi tenang, kerjaan mereka hanya tidur bagunnya sudah terima gaji.
Berdasarkan data, di Sulut jumlah pasien sembuh lebih tinggi dibanding yang meninggal. Salah seorang kawan dokter, mengatakan kepada saya, mereka yang meninggal itu juga karena komplikasi. Imun tubuh mereka kurang dan komplikasi dengan penyakit berat yang mereka bawa.
Dokter, memberi tahu bahwa Corona bukanlah penyebab tunggal kematian, tetapi sebagai pelengkap dari yang pasien derita. "Jika kita sehat, imun tubuh kuat tentu akan lebih mudah disembuhkan, apalagi jika pikiran kita bahagia.." katanya.
Apa yang para tenaga kesehatan itu butuhkan ?
Narasi positif pemberitaan. Narasi positif itu adalah bagian dari apresiasi kerja mereka. Sebuah kabar bahwa mereka tidak tinggal diam, itu saja sudah cukup membanggakan. Tidak perlu gelar, tidak perlu nama, hanya kabar yang menggembirakan.
Mereka juga bahagia ketika lihat kita pakai masker, cuci tangan pakai sabun, jaga jarak dan tidak berkerumun.
Mereka bahkan tak peduli ketika ada tudingan, mereka dapat gaji dan tunjangan berlimpah karena menangani pasien Covid 19. Padahal kita sendiri belum tentu siap dibayar mahal tangani pasien Covid 19. Ingat berapapun duit yang mereka dapat tak sebanding dengan nyawa yang mereka pertaruhkan.
Kata kawan dokter saya itu. Memang tidak semua Nakes seperti mereka yang sedang bekerja senyap. Ada juga Nakes yang lebih sibuk memprovokasi. Tapi mereka tidak perduli, itu, "Urusan masing2 orang. Yang mengerti etika profesi.." kata kawan dokter itu lagi.
Ah, sudahlah. Tidak perlu kuganggu mereka. Lebih baik berdoa supaya semua kembali seperti sediakala.
Jadi ingat kata2 pak GSVL, Sulut itu tangguh. "Kita sudah sering mengalami situasi rumit, tapi tetap ada "tangan" yang bekerja tanpa terlihat, berdoa dan berusaha. Sambil tetap waspada ikut membantu para Nakes dengan disiplin protokol kesehatan, salam sehat,.." ucap GSVL.
Dok, selamat bekerja. Para perawat juga. Kami yang waras ini selalu mendukung dan mendoakan untuk kalian yang sudah bertaruh nyawa.
Istirahatlah sejenak, kalau kau lelah. Saya akan bagikan berita ini untuk menghormati perjuangan kalian..(JM)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguji Orang Baik

Kenapa Selalu Tentang GSVL

Apakah GSVL Akan Maju Di Pilkada 2024?